Senin, 06 April 2009

Pendekatan Descovery-Inquiry sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar dan penerimaan materi fisika

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu fisika sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam, menjadi salah satu materi wajib dalam pembelajaran IPA mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagian dari materi fisika juga telah diberikan dalam pelajaran sains ditingkat Sekolah Dasar (SD). Bahkan ditingkat sekolah menengah atas mata pelajaran Fisika menjadi salah satu mata pelajaran wajib dalam ujian akhir nasional (UAN) bagi jukarusan Ilmu Alam / Ilmu Pengetahuan Alam.

Selama bertahun-tahun metode mengajar IPA / Fisika di sekolah dasar dan sekolah menengah bahkan juga di perguruan tinggi ialah metode mengajar secara informatif, yaitu guru berbicara atau bercerita dan siswa mendengarkan dan mencatat. Secara tradisional, pengajaran IPA / Fisika ditekan pada penghafalan rumus-rumus, konsep-konsep atau bentuk-bentuk problem tertentu. Pengajaran IPA lebih ditekankan pada produk dari pada proses-proses IPA.

Perubahan adalah ciri khas pendidikan IPA. Hal ini mudah dapat difahami. Karena kebutuhan manusia selalu berubah dan berkembang dan problem ilmiah selalu meningkat, maka salah satu tugas sekolah ialah berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dengan jalan melatih atau mendidik sisiwa agar supaya nanti dapat melaksanaan tugas-tugas di masyarakat yang selalu mengalami proses perubahan dan perkembangan. Yang dimaksud dengan kebutuhan ialah kebutuhan siswa atau masyarakat sesuai dengan keadaan sistem ekologi/ lingkungan, ekonomi-sosial dan budaya, dan kebutuhan sebagai akibat perkembangan IPA dan teknologi dan pembangunan.

Berdasarkan situasi dan kondisi inilah maka sejak berapa tahun berakhir hingga saat ini pendidikan IPA di sekolah dasar, Fisika di sekolah menengah dan perguruan tinggi, telah dan terus-menerus distudi dengan tujuan untuk memperbaharui / memperbaiki materi pelajaran dan cara-cara penyampaian yang disesuaikan dengan teori belajar mengajar yang mutakhir.

Sejak beberapa tahun terakhir hingga saat ini, Departemen Pendidikan (pemerintah RI) telah dan terus berusaha membiayai program-program pengembangan pendidikan. Berjuta-juta rupiah, bahkan mungkin bermiliar-miliar rupiah telah habis digunakan untuk menciptakan dan mengembangkan kurikulum IPA, matematika, ilmu sosial, bahasa, dan sebagainya.

Penulis mencoba mengambil judul, “Metode Pendekatan Descovery-Inquiry dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Motivasi dan Pemahaman Materi Siswa.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang penulis mencoba merumuskan masalahnya sebagai berikut :

1. Mampukah pendekatan descovery-inquiry meningkatkan motivasi belajar siswa?

2. Pengaruh metode pendekatan descovery-inqury terhadap pemahaman siswa tentang materi fisika ?

C. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini memiliki tujuan yang sesuai dengan rumusan masalah diatas yaitu :

1. Mengetahui apakah metode pendekatan discovery-inquiry mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

2. Mengetahui pengaruh pendekatan discovery-inquiry terhadap pemahaman siswa tentang materi fisika.

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan makalah ini akan diterima oleh beberapa pihak diantaranya :

1. Guru

- Guru bisa mengembangkan metode pengajaran

- Memudahkan seorang guru dalam menyampaikan materi bahan ajar Fisika

2. Siswa

- Siswa dapat menerima pelajaran fisika dengan baik

- Siswa dapat memahami dan mengaplikasikan ilmu yang didapatnya disekolah dalam kehidupan sehari-hari.

3. Sekolah

- Terciptanya susasana kondusif dalam KBM pelajaran Fisika


BAB II

Tinjaun Pustaka

A. Hakekat Belajar

Teori belajar yang telah kita bahas meliputi teori Ausubel, Bruner, Gagne, dan teori Piaget. Ke-4 teori tersebut masing-masing memiliki kekhususan, teori Ausubel, misalnya menekankan pada belajar bermakna. Pada belajar bermakna siswa dapat mengasimilasi pada belajar bermakna secara penerimaan, materi pelajaran disajikan dalam bentuk final, sedangkan pada belajar bermakna secara penemuan, siswa diharapkan dapat menemukan sendiri informasi konsep atau dari materi pelajaran yang disampaikan. Belajar bermakna dapat terjadi jika siswa mampu mengkaitkan materi pelajaran baru dengan struktur kognitif yang sudah ada. Struktur kognitif tersebut dapat berupa fakta-fakta, konsep-konsep maupun generalisasi yang telah diperoleh atau bahkan dipahami sebelumnya oleh siswa.

Bruner memandang manusia sebagai pemproses, pemikir, dan pencipta informasi. Menurut Bruner, inti belajar adalah cara-cara bagaimana manusia memilih, mempertahankan, mentransformasikan informasi secara aktif. Masih menurut Bruner, di dalam orang yang belajar, hal-hal yang memiliki kesamaan atau kemiripan dihubungkan menjadi struktur yang memberikan arti pada hal-hal yang dipelajari. Sebagaimana Piaget dalam pendidikan, Bruner juga menyarankan pendekatan child centered approach yang dihubungakan dengan belajar penemuan (discovery learning).

Robert Gagne membagi tipe belajar ke dalam 8 jenis yang paling rendah tingkatannya, yaitu belajar isyarat (signal learning) sampai ke yang paling tinggi yaitu pemecahan masalah (probem solving). Secara lengkap tipe-tipe belajar adalah probem solving, rule learning, concept learning, discrimination learning, verbal learning, chaining, stimulus-response learning dan signal learning.

Dalam menjelaskan proses belajar, Piaget menggunakan 3 istilah yang sering digunakan pada Biologi (hal ini sesuai dengan latar belakang akademiknya), yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Akomodasi merupakan anak untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Dalam hal ini lingkungan menuntut anak untuk melakukan sesuatu. Anak harus mengubah dirinya untuk melakukan hal itu, sebagai contoh, jika seorang anak menemukan sebuah benda yang menghalangi jalan bagi mainannya (mobil-mobilan misalnya), anak tersebut menemukan penyelesaian yang membuat dirinya dapat memudahkan benda yang menghalangi itu dan mainannya dapat berjalan lagi.

Asimilasi di lain pihak, adalah kemampuan anak mengubah untuk memenuhi apa yang ia imajinasikan. Anak memiliki ide apa yang ia inginkan dan memodifikasi lingkungan untuk mencapai hal tersebut. Ia mungkin melakukan modifikasi melalui aktifitas mental, misalnya seorang anak berumur 4 tahun menganggap sebatang sedotan minuman sebagai tongkat ajaib atau lempengan plastik dianggapnya sebagi pedang yang ampuh. Namun, dapat juga ia melakukannya dengan aktifitas fisik, misalnya seorang anak membuat rumah rumahan, sebuah arca atau sebuah candi dari pasir. Hal ini sering dihubungkan dengan ‘bermain’ (play), yang sangat disukai oleh anak-anak.

Memang antarasimilasi dan bermain terdapat hubungan yang sangat erat. Kita semua tahu bahwa anak suka bermain dan asimilasi menjelaskan mekanisme psikologis mengenai hal itu. Dalam bermain anak-anak mentransformasikan objek-objek untuk memenuhi imajinasi yang ada pada dirinya.

Secara mudah dapat dikatakan bahwa asimilasi melibatkan proses transformasi pengalaman di dalam pikiran, sedangkan akomodasi melibatkan proses penyesuaian pikiran terhadap pengalaman yang baru. Pada sembarang tahapan (stage) perkembangan, akomodasi atau asimilasi salah satu untuk sementara mendominasi dan baru kemudian digantikan oleh yang lain. Akhirnya suatu keseimbangan (equilibrium) akan diperoleh (untuk tahapan tertentu) melalui proses penyeimbangan atau ekuilibrasi (equilibration). Ekuilibrasi merupakan kemampuan anak untuk menyusun dan mengatur.

B. Pembelajaran Fisika

Fisika adalah bagian dari sains (IPA), pada hakikatnya adalah kumpulan pengetahuan, cara berpikir, dan penyelidikan. IPA sebagai kumpulan pengetahuan dapat berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model. IPA sebagai cara berpikir merupakan aktivitas yang berlangsung di dalam pikiran orang yang berkecimpung di dalamnya karena adanya rasa ingin tahu dan hasrat untuk memahami fenomena alam. IPA sebagai cara penyelidikan merupakan cara bagaimana informasi ilmiah diperoleh, diuji, dan divalidasikan.

Fisika dipandang sebagai suatu proses dan sekaligus produk sehingga dalam pembelajarannya harus mempertimbangkan strategi atau metode pembelajaran yang efektif dan efesien yaitu salah satunya melalui kegiatan praktik. Hal ini dikarenakan melalui kegiatan praktik, siswa melakukan olah pikir dan juga olah tangan.

Kegiatan praktik adalah percobaan yang ditampilkan guru dan atau siswa dalam bentuk demonstrasi maupun percobaan oleh siswa yang berlangsung di laboratorium atau tempat lain. Adapun jenis-jenis kegiatan praktik dikelompokkan menjadi 4, yaitu eksperimen standar, eksperimen penemuan, demonstrasi, dan proyek.

Kegiatan praktik dalam pembelajaran fisika mempunyai peran motivasi dalam belajar, memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan sejumlah keterampilan, dan meningkatkan kualitas belajar siswa.

C. Macam-Macam Pendekatan dalam pembelajaran Fisika

Strategi atau teknik, metode dan pendekatan merupakan tiga hal yang berbeda meskipun penggunaannya sering bersama-sama dijumpai dalam pembelajaran. Pendekatan merupakan teori atau asumsi. Metode adalah pengembangan yang lebih konkret dari teori tersebut, berupa prosedur-prosedur berdasarkan teori tersebut di dalam berbagai bentuk kegiatan kelas.

Meskipun telah disebutkan bahwa “tidak ada satu pun pendekatan yang paling cocok untuk satu pelajaran”, tetapi karena pusat pelajaran fisika adalah eksperimen dan merupakan bagian tak terpisahkan dari pelajaran fisika itu sendiri maka melalui eksperimen siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dengan gejala fisika yang dipelajari. Fisika sebagai ilmu yang memiliki karakteristik tersendiri dalam mempelajarinya tidak cukup hanya melalui minds-on, tetapi juga harus melalui hands-on, seperti layaknya ilmuwan ketika menjelajahi alam ini. Secara teoretis dan dengan prosedur-prosedur yang tepat kerja laboratoriumlah pendekatan yang tepat digunakan dalam pembelajaran fisika.

Macam-macam kerja laboratorium dapat dibedakan dalam deduktif atau verifikasi, induktif, keterampilan teknis, tanya jawab, dan keterampilan proses. Umumnya pendekatan-pendekatan tersebut dapat meningkatkan hal-hal sebagai berikut; sikap terhadap fisika, sikap ilmiah, penemuan ilmiah, pengembangan konsep, dan keterampilan-keterampilan teknis bagi siswa.

D. Pendekatan Discovery dan Inquiry

Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, men-jelaskan, dan mengambil kesimpulan.

Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Pada pendekatan inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.

Pendekatan inquiry adalah pendekatan mengajar di mana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri.

Pendekatan inquiry harus memenuhi empat kriteria ialah kejelasan, kesesuaian ketepatan dan kerumitannya. Setelah guru mengundang siswa untuk mengajukan masalah yang erat hubungannya dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, siswa akan terlibat dalam kegiatan inquiry dengan melalui 5 fase ialah:

· Fase 1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan tantangan untuk diteliti.

· Fase 2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat khusus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi.

· Fase 3 : siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan bereksperimen untuk menguji hipotesis sehingga diperoleh hubungan sebab akibat.

· Fase 4 : merumuskan penemuan inquiry hingga diperoleh penjelasan, pernyataan, atau prinsip yang lebih formal.

· Fase 5 : melakukan analisis terhadap proses inquiry, strategi yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah pada mencari sebab akibat.

Salah satu metode pembelajaran dalam bidang Sains, yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inquiry. David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Through Inquiry (1993) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993).

Alasan rasional penggunaan metode inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai Sains dan akan lebih tertarik terhadap Sains jika mereka dilibatkan secara aktif dalam "melakukan" Sains. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung metode inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Sains dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut (Blosser, 1990).

Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap Sains dan Matematika (Haury, 1993). Dalam makalahnya Haury menyatakan bahwa metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa metode inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.

E. Motivasi Belajar

Motivasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang memberikan energi bagi seseorang dan apa yang memberikan arah bagi aktivitasnya. Motivasi kadang-kadang dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil. Energi dan arah inilah yang menjadi inti dari konsep tentang motivasi. Motivasi merupakan sebuah konsep yang luas (diffuse), dan seringkali dikaitkan dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi energi dan arah aktivitas manusia, misalnya minat (interest), kebutuhan (need), nilai (value), sikap (attitude), aspirasi, dan insentif (Gage & Berliner, 1984). Dengan pengertian istilah motivasi seperti tersebut di atas, kita dapat mendefinisikan motivasi belajar siswa, yaitu apa yang memberikan energi untuk belajar bagi siswa dan apa yang memberikan arah bagi aktivitas belajar siswa.

BAB III

PEMBAHASAN

Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Discovery-Inquiry

Fisika adalah bagian dari sains (IPA), pada hakikatnya adalah kumpulan pengetahuan, cara berpikir, dan penyelidikan. IPA sebagai kumpulan pengetahuan dapat berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model. IPA sebagai cara berpikir dalamnya karena adanya rasa ingin tahu dan hasrat untuk memahami fenomena alam. IPA sebagai cara penyelidikan merupakan cara bagaimana informasi ilmiah diperoleh, diuji, dan divalidasikan.

Akan tetapi kenyataan dilapangan siswa lebih menyenangi pelajaran kesenian dan TIK dari pada belajar Fisika. Bahkan sebagian besar siswa menganggap Fisika sebagai momok menakutkan, sebagai salah satu pelajaran yang dianggap sulit karena banyak sekali rumus. Memang ketika kita berbicara tentang Fisika hal pertama yang muncul dibenak kita ialah rumus yang berbaris deret banyak dan membuat kita pusing.

Bagaimana bisa seorang guru menyampaikan materi Fisika kepada peserta didiknya jika peserta didik sudah punya anggapan bahwa pelajaran Fisika itu susahnya minta ampun, yang terjadi pasti sebuah proses kegiatan Fisika itu susahnya minta ampun, yang terjadi pasti sebuah proses kegiatan Fisika itu susahnya minta ampun, apalagi dengan metode ceramah yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru Fisika yang terjadi pasti sebuah proses kegiatan pembelajaran yang kurang akn yang kurang aktif bahhkan cenderung monoton.

Salah satu program untuk mengembangkan metode mengajar yang modern (sebenarnya tidak baru) di sekolah dasar dan sekolah menengah selama beberapa tahun terakhir ini telah menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar yang aktif melalui kegiatan-kegiatan yang berorientasikan pada “discovery” dan “inquiry”

Untuk mensisati hal tersebut, dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan penggunaan “Pendekatan Descovery-Inquiry dalam Pembelajaran Fisika”. Kenapa penulis memilih pendekatan descovery-inquiry karena tehnik ini dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh sebagian guru Fisika, bahkan calon guru Fisika.

Penggunaan teknik oleh seorang guru sewaktu mengajar memiliki tujuan :

· Agar siswa terangsang oleh tugas

· Aktif mencari serta meneliti sendiri permasalahan itu

· Mencari sumber sendiri

· Mereka belajar bersama dalam kelompok.

· Diharapakan juga siswa mampu mengemukakan pendapatnya dan menarik kesimpulan

· Siswa juga diajarkan untuk mempertahankan pendapat, menyanggah pendapat dan berdebat.

Carin ( 1985 ) menyatakan bahwa “ discovery” adalah suatau proses mental dimana anak atau individu mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip.

Dengan kata lain, “discovery” terjadi apabila siswa terutama terlibat dalam menggunakan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip. Misalnya, siswa mungkin menemukan “apa atom itu”, yaitu Ia membuat suatu konsep tentang atom, atau kemudian Ia mungkin menemukan suatu prinsip ilmiah : “ atom tidak dapat dibagi lagi “.

Suatu kegiatan “discovery” ialah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri.

Di bawah ini contoh beberapa konsep dan prinsip.

Konsep :

Kecepatan Zat

Panas Gaya

Energi Reaksi, dan sebagainya.

Prinsip :

Logam bila dipanasi memuai.

Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan.

Bagi seorang siswa untuk membuat penemuan-penemuan, Ia harus melakukan proses-proses mental, misalnya mengamati, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, menarik kesimpulan dan sebagainya. Pengajaran “discovery” harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses “discovery”.

Pada kegiatan discovery guru hanya memberikan masalah dan siswa disuruh memecahkan masalah melalui percobaan. Pada pendekatan inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.

”Inquiry” dibentuk dan meliputi ”discovery”, karena siswa harus menggunakan kemampuan “discovery” dan lebih banyak lagi dengan kata lain,”inquiry” adalah suatu perluasan proses-proses “discovery” yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses-proses “discovery”,” ínquiry” mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.

Pengajaran ” inquiry “ harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin bahwa siswa dapat mengembangkan proses “ inquiry “. Carin (1985) menekankan pengajaran “discovery” dengan batas-batas tertentu untuk siswa sekolah dasar kelas yang lebih rendah, kemudian mengenalkan “inquiry” kepada siswa yang lebih atas kelasnya yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektualnya.

Pendekatan inquiry adalah pendekatan mengajar di mana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri.

Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).

Siswa kelas 4 Sekolah Dasar mungkin mengamati es mencair dan menemukan bahwa es sangat sensitif terhadap panas. Bagi siswa kelas 6 atau siswa Sekolah Menengah Pertama dapat diberi tugas untuk memilih dan menyelidiki suatu perubahan wujud dan membuat laporan eksperimen yang telah dikerjakan. Apabila ia merumuskan problemnya sendiri, merancang eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan, maka dapat dinyatakan bahwa ia sedang melakukan kegiatan “inquiri”.

Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).

Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini - sesuai dengan Taxonomy Bloom - siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstruksi.

Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.

Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.

Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.

Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, jika metode inquiry diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru kepada siswa memiliki batasan-batasan tertentu, misalnya siswa harus merasa dapat menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang disyaratkan dalam metode pembelajaran Inquiry, yang oleh Garton disebut sebagai pertanyaan essential, antara lain harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut (Garton, 2005).

· dapat ditanyakan berulang-ulang

· menunjukkan kepada siswa hubungan antara beberapa konsep dalam sebuah subjek

· muncul dari usaha untuk belajar lebih jauh mengenai kehidupan, berupa pertanyaan umum dan membuka pertanyaan-pertanyaan lebih jauh

· menuntun pada konsep utama subjek tertentu, untuk menjawab pertanyaan bagaimana kita mengetahuinya atau mengapa

· memberikan stimulus dan menumbuhkan minat untuk menyelidiki; melibatkan siswa dan menimbulkan curiosity

· melibatkan level berpikir yang lebih tinggi

· tidak dapat langsung dijawab

· tidak dapat dijawab hanya dengan satu kalimat

Contoh pertanyaan essential antara lain:

· "Apa yang menyebabkan sebuah zat disebut zat padat, zat cair, atau gas?"

· "Darimana datangnya ayam dan bagaimana cara kerja telur ayam sehingga bisa menjadi ayam?"

· "Mengapa bentuk bulan berubah-ubah?"

Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa bersama-sama mengembangkan pertanyaan-pertanyaan lain, yang oleh Garton disebut pertanyaan unit, untuk menjawab pertanyaan essential. Ciri pertanyaan unit antara lain:

· menanyakan konsep-konsep apa saja yang terdapat dalam subjek pertanyaan essential

· membantu siswa menjawab pertanyaan essential secara lebih spesifik

Contoh pertanyaan unit antara lain:

· Apa saja contoh zat padat, zat cair, dan gas?

· Apakah ciri-ciri zat padat, zat cair, dan gas?

Dari unsur kedua dan ketiga dalam metode inquiry adalah student engangement (keterlibatan) dan cooperative interaction (interaksi kerjasama). Kedua hal ini akan dibahas bersamaan karena memiliki kedekatan. Keterlibatan siswa dan interaksi kerjasama dapat ditinjau berdasarkan teori-teori motivasi Psychoanalitic, Humanistic, dan Social Cognition.

Dalam pandangan Theory of Socioemotional Development, yang paling mendorong atau memotivasi perilaku manusia dan pengembangan pribadi adalah interaksi sosial. Dalam pembelajaran dengan metode inquiry, ketika siswa merasa dilibatkan oleh guru (lingkungan) dalam proses menjawab pertanyaan-pertanyaan dan melakukan interaksi dengan sesama siswa melalui kerja kelompok, maka perilaku dan kepribadiannya berubah ke arah yang lebih baik, yaitu ikut aktif terlibat dalam kegiatan dan mau bekerjasama. Supaya keterlibatan dan kerjasamanya dapat diterima oleh lingkungan, maka ia harus menyiapkan diri sebaik mungkin, misalnya dengan membaca banyak buku teks.

Dari analisis singkat tentang “discovery” dan/atau “inquiry” ini, jelaslah bagi siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas lebih bawah harus disediakan kegiatan belajar IPA yang terutama berorentasikan pada proses-proses “dicovery”. Tetapi bagi siswa sekolah dasar kelas lebih atas dan sekolah menengah, harus diciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang berorentasikan pada proses-proses’inquiry”. Lebih lanjut, analisis ”dicovery” dan”inquiry” di atas menunjukkan hakekat proses berpikir secara hirarki yang digunakan oleh para ilmuwan.

Ilmuwan yang sejati memiliki pengalaman yang sangat luas. Ia mengetahui beratus-ratus prosedur untuk merancang eksperimen-eksperimen dan untuk memperkecil kesalahan-kesalahan eksperimen. Ia telah mengasimilasi sikap-sikap khusus yang meyakinkan mana yang benar dan mana yang tidak benar dari penelitian-penelitian yang ia lakukan. Untuk menjadi “problem solver” yang baik, bersikap dan berpikir sebagai ilmuwan, atau menjadi ilmuwan yang profesional memerlukan waktu bertahun-tahun. Guru mempunyai tanggung jawab dan peranan yang besar sekali dalam melicinkan proses perkembangan ini.

Jelaslah, bahwa siswa dapat berkembang kemampuan berpikir “discovery-inquiry”nya, hanya apabila ia terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut pelaksanaan tugas-tugas mental tersebut di atas. Karena siswa sesungguhnya tidak pernah menguasainya setiap tugas mental dengan sempurna, maka ada suatu tingkatan dimana siswa itu menjadi ahli dalam mempelajari tentang bagaimana “to discovery” dan ‘to inquiry’. Bahkan, ilmuwan yang menerima hadiah nobel, pengarang, pelukis, ahli matematika, ahli ilmu sosial, ahli ekonomi dan sebagainya masih dalam keadaan bergerak menuju ke pengembangan keterampilan-keterampilan ‘discovery”dan ‘inquiry” ini. Tugas suatu sistem sekolah ialah membentuk kurikulum sedemikian rupa sehingga siswa dapat memanifestasikan kemampuan-kemampuan “discovery” dan ”inquiry”nya.

Proses belajar mengajar melalui “discovery-inquiry learning and teaching” selalu melibatkan siswa dalam kegiatan bertukar pendapat melalui diskusi, seminar, dan sebagainya. Beberapa keuntungan mengajar dengan menggunakan metode “discovery-inquiry” antara lain sebagai berikut.

1. Jerome Bruner, seorang profesor psikologi dari Harvard University di Amerika serikat menyetakan beberapa keuntungan metode discovery (penemuan) sebagai berikut .

a. Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.

b. Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru.

c. Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.

d. Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesis sendiri. Di dalam proses belajar melalui “discovery-inquiry”, tugas kegiatannya dibuat “open-ended” sehingga siswa menjadi bebas untuk mengembangkan hipotesis-hipotesisnya sendiri.

e. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik.

f. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.

2. Pengajaran menjadi “student-centered”.

Salah satu prinsip psikologi tentang belajar menyatakan bahwa makin besar keterlibatan siswa dalam kegiatan, maka makin besar baginya untuk mengalami proses belajar. Biasanya bila guru berpikir tentang pembelajaran Fisika, Ia menganggap bahwa siswa sedang mengasimilasi beberapa informasi. Proses belajar meliputi semua aspek yang menunjang siswa menuju ke pembentukan manusia seutuhnya (“a fully function person”). Misalnya, di dalam situasi proses inquiry, siswa tidak hanya belajar tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tetapi Ia juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri sendiri, tanggung jawab, komunikasi sosial dan sebagainya. Sebaliknya, banyak kesempatan untuk pengembangan bakat-bakat di atas bagi siswa sangat terhalang di dalam pengajaran yang berdasarkan pada “teacher centered”. Apabila dipandang pengajaran sebagai cara untuk memungkinkan siswa dapat menjadi manusia yang utuh, maka sukarlah untuk mempertahankan situasi lingkungan proses belajar yang berdasarkan pada “teacher centered”.

3. Proses belajar melalui kegiatan “inquiry” dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri.

Apabila kita mempunyai konsep diri yang baik, maka secara psikologis diri kita akan merasa aman, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan mengeksplorasi kesempatan-kesempatan yang ada, lebih kreatif, dan umumnya memiliki mental yang sehat.

Salah satu tugas dalam pembentukan siswa yang baik adalah pembentukan konsep diri. Kita dapat melakukan hal ini dengan jalan melibatkan diri dalam proses “discovery-inquiry’, karena melalui keterlibatan yang aktif, kita dapat memanifestasikan potensi kita dan memperoleh pengertian tentang “diri”. Mengajar dengan menggunakan metode “discovery-inquiry” memberikan kesempatan bagi siswa dalam keterlibatan yang lebih besar, yaitu memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk memperoleh kesadaran dan mengembangkan konsep dirinya lebih baik.

4. Tingkat pengharapan bertambah.

Bagian dari konsep diri siswa ialah tingkat pengharapannya, yaitu siswa mempunyai ide tertentu tentang bagaimana ia dapat menyelesaikan suatu tugas dengan caranya sendiri. Sayangnya, banyak siswa yang telah mendapatkan tingkat pengharapan yang rendah. Mereka merasa, misalnya ; “Saya tidak dapat mengerjakan soal-soal mekanika”, “Saya tidak pernah mendapatkan hasil yang baik dalam pelajaran Fisika”. Sebenarnya melalui kegiatan “discovery-inquiry”, siswa mungkin dapat memperoleh pengalaman yang sukses dalam menggunakan bakat-bakatnya untuk menyelidiki atau memecahkan problem-problem Fisika. Misalnya, “Saya dapat memecahkan problem Mekanika dengan cara saya sendiri tanpa pertolongan orang lain”.

5. “Inquiry Learning” dapat mengembangkan bakat kemampuan individu.

Individu memiliki suatu kumpulan lebih dari 120 bakat. Bakat akademik hanya berhubungan dengan beberapa saja. Lebih banyak kebebasan (fleksibel) dalam proses pembelajan Fisika bagi siswa, berarti makin besar kemungkinan baginya untuk dapat mengembangkan bakat-bakat lainnya. Bila siswa bekerja sama memecahkan atau menyelidiki beberapa problem, maka mereka mungkin terlibat dalam pengembangan bakat-bakat lainnya, misalnya merencanakan, mengorganisasim komunikasi sosial, kreativitas, dan akademik.

6. “Inquiry Learning” dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar tradisionil (menghafal).

Memang kelemahan dalam peajarjaran Fisika, siswa sering menghafal rumus, dan kita tahu keterbasan otak manusia. Tidak memungkinkan bagi manusia untuk mengingat seluruh materi, apalagi rumus yang ia hafal. Dengan memahami konsep rumus tersebut akan tertuang dengan sendirinya. Jadi dengan pendekatan diatas siswa bisa meninggal pola belajar tradisional dengan pola belajar baru dengan memahami konsep yang mereka pelajari.

7. “Inquiry Learning” memberikan waktu bagi siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Seringkali guru tidak memberikan waktu cukup kepada siswa untuk berpikir dalam hubungannya dengan proses pembelajaran Fisika. Siswa memerlukan waktu dalam menggunakan daya otaknya untuk berpikir dan memperoleh pengertian tentang konsep, prinsip dan teknik-teknik memecahkan suatu problem. Dr Jean Piaget percaya bahwa ‘tidak akan terjadi proses belajar yang sejati (murni) apabila siswa tidak asimilasi serta mengakomodasi segala sesuatu yang ia jumpai di lingkungannya”. Apabila hal ini tidak terjadi, maka guru dan siswa hanya terlibat dalam “pseudo-learning”, yaitu berupa hafalan atau ingatan yang segera musnah menjadi kelupaan yang tak bermakna. Oleh karena itu, guru harus menyadari dan cukup menjamin bahwa siswa memperoleh keberhasilan di kelak kemudian untuk memahami implikasi-implikasi penting studinya.

8. Apabila siswa belum pernah mempunyai pengalaman belajar melalui kegiatan “discovery-inquiry”, maka pada permulaan kegiatan belajar mungkin ia memerlukan struktur yang cukup luas dalam pelajaran-pelajarannya.

Setelah siswa memperoleh beberapa pengalaman tentang bagaimana melakukan suatu penyelidikan, ia akan dapat melakukan tugas-tugas dengan bentuk-bentuk pelajaran yang strukturnya tidak begitu luas. Dalam hal ini, istilah umum “sifat menyelidiki” digunakan baik untuk pendekatan pembelajaran Fisika dengan menggunakan metode “discovery-inquiry” maupun “inquiry”.

Proses pembelajaran IPA di Sekolah Dasar dan Fisika di Sekolah Menengah dan perguruan tinggi yang menggunakan “discovery-inquiry” dapat lebih mengembangkan “sifat menyelidiki” pada diri siswa. Di lain pihak pembelajaran menggunakan “discovery-inquiry” akan menciptakan pembelajaran yang student centered bukan lagi teacher centered. Bila yang terjadi sebaliknya, maka guru dan siswa hanya terlibat dalam “pseudo-learning”, yaitu berupa hafalan atau ingatan yang segera musnah menjadi kelupaan yang tak bermakna.

Dengan demikian harapan mewujudkan siswa menjadi manusia seutuhnya (“a fully function person”) akan mendapat peluang yang besar mewujudkannya bila proses pembelajaran Fisika menggunakan pendekatan yang konstruktif semisal “discovery-inquiry” itu. Hal itu memerlukan kesadaran dan kemauan yang tinggi dari setiap guru-guru IPA atau guru Fisika.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pemabahasan penulis dalam makalah diatas, dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya:

1. Metode discovery-inquiry memberikan kesempatan meningkatnya motivasi belajar siswa. Memberikan kesempatan dapat diartikan sebagai suatu ketidakpastian, masih terdapat batasan-batasan. Misalnya, jika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada siswa terlalu sulit (jarak psikologisnya jauh), tidak memberikan rangsangan dan curiosity yang tinggi, maka peningkatan motivasi belajar juga sulit diharapkan. Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dari metode discovery-inquiry terhadap motivasi belajar siswa.

2. Metode pendekatan discovery-inquiry dengan mengubah pola belajar tradisional dengan menghafal dengan memahami konsep memeliki dampak positif terhadap pemahaman siswa tentang materi fisika yang dipelajarinya.

Perlu adanya kerjakeras dan kemauan yang sungguh-sungguh dari guru dan siswa untuk melakukan proses pembelajaran dengan pendekatan descovery-inquiry. Sehingga terwujud cita-cita bersama proses pembelajaran yang efektif dan efisien serta materi bahan ajar yang tersampaikan kepada siswa.

B. Saran

Dengan mempertimbangkan sisi positif dan negative dari metode pendekatan discovery-Inquiry diatas. Bagi guru khususnya bisa menjadikan metode pendekatan ini sebagai salah satu metode dalam pengajaran fisika.